Minggu, 07 Agustus 2016

kajian semiotika cerpen ''Blongkeng'' karya Ahmat Tohari dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin



A. Pendahuluan
Karya sastra merupakan refleksi pemikiran, perasan dan keinginan pengarang lewat alat perantara yang disebut bahasa. Alat yang digunakan bukan sembarangan,  melainkan alat  bahasa yang khas. Bahasa yang digunakan bahasa yang memuat tanda-tanda atau semiotik. Ilmu yang mempelajari semiotik adalah Semiologi. Semiotik mempercayai bahwasanya karya sastra mempunyai cara pandang tersendiri. Karya sastra tidak hanya dilihat dari bentuknya saja, namun memperhatikan tanda-tanda meskipun tanda tersebut tidak dianggap penting namun dilihat dari semiotik bahwa tanda sekecil apapun pasti memiliki arti tersendiri. Secara sederhana bahwa semiotika adalah ilmu (bidang penelitian) yang membicarakan tanda-tanda bahasa dalam karya sastra. Menurut Pateda, (2001:29) sekurang-kurangnya terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang, yaitu; semiotik analitik, semiotik deskriptif, semiotik faunal, semiotik kultural, semiotik naratif, semiotik natural, semiotik naratif, semiotik sosial, dan semiotik language.
Dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin Ahmat Tohari terdapat sebuah cerpen yag berjudul  Blongkeng, cerpen tersebut menarik untuk dikupas menggunakan kajian Semiotik dikarenakan terdapat banyak tanda-tanda yang berwujud ikon, indeks ataupun simbol yang  memiliki pesan tersembunyi atau makna tersembunyi. Pada cerpen Blongkeng terdapat banyak tanda-tanda yang harus dicari makna dibalik makna, ketidaklangsunganpernyataan dalam sebuah cerpen itu menurut Riffatere(1978:2) disebabkan oleh tiga hal:penggantian arti, penyimpangan arti dan penciptaan arti.Dalam cerpen tersebut, banyak sekali pengarang menggunakan tanda bahasa yang asing ditelinga yang menjadikan pemaknaan karya sastra tidak lengkap. Makna karya sastra pada cerpen tersebut juga harus mempertimbangkan keterkaitan cerpen dengan wacana tanda.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah sebagai beikut.
1.      Apakah Tanda-tandakhusus yang terdapat  dalam cerpen Blongkeng karya Ahmat Tohari dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin?
2.      Apakah makna yang terkandung dalam cerpen Blongkeng karya Ahmat Tohari dalam kumpulan cerpen senyum karyamin?

Tujuan Penelian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, tujuan penelitian sebagai berikut.
1.      Menentukan tanda-tanda khusus yang yang terdpat dalam cerpen Blongkeng karya Ahmat Tohari dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin
2.      Mampu mendeskripsikan makna dari  tanda-tanda khusus dalam cerpen Blongkeng karya ahmat tohari dalam kumpulan cerpen Senyum Karyamin
LANDASAN TEORI
Kajian semiotik akan mengungkap karya sastra sebagai sistem tanda. Tanda tersebut merupakan sarana komunikasi yang bersifat estetis. Karenanya, setiap tanda membutuhkan pemaknaan. Nauta (Segers, 2000:6) membagi tiga jenis sarana komunikasi, yaitua: signals dan simbol. Sign Adalah tanda-tanda. Simbol adalah lambang yang bermakna.
Menurut Barthes ( Kurniawan, 2001:56) tanda akan memuat empat subtansi yaitu, (a) subtansi ekspresi, misalnya suara dan artikulator, (b) bentuk ekspresi yang dibuat oleh aturan-aturan sinagmatik dan paradigmatik, (c) subtansi isi, misalnya, aspek-aspek emosional, idiologis, dan pengucapan secara sederhana dari petanda, (d) bentuk isi, ini adalah susunan normal petanda diantara tanda-tanda itu sendiri melalui hadir tidaknya sebuah tanda sematik.
Fokema dan Kunne-Ibsch (1977:166) memberikAn acuan bahwa penelitian semiotika sekurangnya perlu memperhatikan tiga aspek utama, yaitu: a. The construction of abstract scientificnmodels, b. explanatory models, c. schmatic simplication.
Riffatere (1978:1-2) penelitiAn semiotik perlu memperhatikan tiga hal, yaitu, a. displacingof meaning (penggantian arti) b. distorting of meaning (penyimpangan arti) c. creatingof meaning (penciptaan arti).







Pembahasan
Blongkeng adalah orang yang sedikit gila, yang bertempat tinggal di pasar. Blongkeng seorang gadis yang dihamili oleh seseorang yang tidak dikenali. Tentang Blongkeng memang tak ada duanya. Kecuali dia adalah perempuan secara bioogis sempurna—seperti baru saja terbukti—sama halnyadengan perempuan-perempuann lainya. Mereka tidak sudi disamakan martabatnya dengan Blongkeng.
Cerita Blongkeng berlatar di Jawa. ” Perempuan-permpuan berdecap-decap sambil mengusap dada. ” Gusti Pangeran’’.  Bajul Bunting mana yang telah menyerbu Blongkeng’’.  Bajul diartikan sebagai laki-laki, sedangkan menyerbu artinya adalah meniduri.
Ular dalam cerpen tersebut berarti alat kelamin. Dijelaskan pada percakapan
            ‘’Ular.’’
            ‘’Ular? Yang membuntingimu ulara? Baik, tapi katakan ular siapa
            ‘’Ular Koros.’’
            ‘’Aku tidak main-main!’’
            ‘’Mbuh-mbuh-mbuh!’’
Ular koros adalah ular yang hitam dan panjang, artinya yang meniduri Blongkeng adalah pria yang berkelamin hitam dan panjang.
Sas-sus adalah singkatan dari desas-desus. Sesuai konteks cerita sas-sus adalah berita burung atau berita yang belum jelas keabsahanya. ‘’ Maka keesokan harinyatersiat kabar ayah bayi Blongkeng adalah seorang laki-laki yang memiliki senter.
Bakiak dan Bandol adalah sebutan untuk alat pengganti alas kaki. ‘’Kini yanng mencari Bakiak dan Bandol sebagai alas kaki, sementara itu sandal jepit lenyap dengan serta meta.’’
Keblingsatan kampung berarti keresahan seluruh warga.  ‘’Dalam keblingsatan tertentu, keblngsatan adalah keresahann warga.’’
Berkepala botak diarikan sebagai alat kelamin pria. ‘’ Tidak’’ , kata blongkak sungguh tanpa emosi. Yang datang kemai malam-malam tidak berkepala gondrong. Bukan ini.
Kampung pongah diartikan kampung yang masyarakatnnya bodoh, primitif. Kampung dimana masyarakat tidak memiliki prinsip yang kuat, waranya saling lempar tanggung jawab, dan menelantarkan sesamanya
Bagaimana tentang si Bongkleng yang melahirkan antah brantaha? Anta bratah adalah metafora dalam kalimat tersebut, berarrti anta branta adalah salahsatu sifat setan yang diturnkan kemanusia, sifat tersebut identik dengan kejelekan. Jadi dalam kalimat bagaimana tentang si Bongkleng yang melahirkan sifat kejelekan.
Sampah pasar adalah adalah pemaknaan dari kejelekan.
            ‘’Blongke bukan perawan mariam’’
            ‘’Dan bayinya bukan Yesus’’
            ‘’ Lahir mengatasi keblingasatan ini’’
            ‘’Pokoknya Blokeng tidak seperti keluarga mariam’’
            ‘’ Yang diberkati banyak hal surgawi’’
            ‘’Blokeng hanya diberkati sampah pasar’’.
Dunia tidak cukup akal adalah gambaran dari kekuasaan tuhan yang erceermin dari kalimat. Hanya Blokeng sendiri yang tidak bingsatan. Dunianya tidak cukup akal membebaskanya dari dosa, dari keharusan memiliki suami sah, dan dari kepongahan yang akan menelorkan keblingsatan dan kepura-puraan. Tetapi bukan berarti Blongkeng membawa bayinya kedepan pintu gubuk, dilelo, ditimang-timang.’’Cowet, anaku. Ayahmu ebuh. Tetapi jangan bersedih, ya. Lihatlah itu, orang-orang gundul. Lucu, yaa?’’ seperti tahu kata-kata emaknya, cowet yang masih bayi tertawa ngakak. Hek-hek-hek. Hik-hik-hik.








PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan analisis Semiotik dapat diambil simpulan.
Latar tempat berada di masyarakat pedesaan yang pimitif,tertinggal dan di daerah Jawa. Dalam analisis terdpat ketidak langsungan penyataan yaitu, penciptaan arti, penggantian arti, dan penyimpangan arti. Pengarang menggunakan banyak tanda-tanda, dan kata-kata yang jarang digunakan dalam sebuah menulis karya sastra
Saran
Karya sastra yang memiliki banyak istilah-istilah atau penggunaan diksi yang tidak banyak diketahui oleh masyarakat awam, maka teori semiotik sangat disarankan sebagai alat analisis. Analisis semiotik mengungkap hal-hal yang tak bisa ditangkap dengan sekali baca. Perlu pengumpulan informasi tentang hal-hala yang ada di dalam karya sastra. Mengenai karya yang dikaji, cerpen ini menyiratkan simbol-simbol lain yang masih sangat perlu untuk diungkap pesan-pesannya. Analisis sederhana makalah ini tentu masih banyak kekurangan.

2 komentar: