Senin, 26 Oktober 2015

KKL



Terbangun oleh kicauan Gragap,burung Nuri kesayanganku.Pagi hari sebelum matahari meninggi, tepatnya tanggal 2-april 2015 saya bergegas pergi ke kampus, kegiatan kuliah yang akan saya dapatkan akan terlihat berbeda dengan seperti biasanya.Sesampainya di kampus, sudah terlihat gerombolan manusia dengan membawa barang bawaan yang sangat banyak dalam wadah yang sering kita sebut tas, mereka sudah berbaris rapih dan santai karena mendengarkan sambutan serta pelepasan Kuliah Kerja Lapangan yang akan dilaksanakan di pulau Bali.Beeberapa saat saya mulai bergabung dalam barisan dan terlihatlah dosen yang berkumis tebal yaitu Bapak Muklish, Beliau memberikan sambutan dan wanti-wanti kepada rombongan mahasiswa yang akan berangkat ke Bali untuk Kuliah Kerja Lapangan.20 menit Beliau memberikan sambutan dan disambunglah oleh Kepala Jurusan Progdi saya yaitu, Ibu Nanik.Beliaupun sama memberikan sambutan dan pelepasan mahasiswa untuk melaksanakan KKL.
Saatnya tiba ketika waktu sudah menunjukan keberangkatan, kamipun bergegas untuk menuju  Kotak besar penampung nyawa atau sering kita sebut Bus, dengan perasaan semangat yang bergelora.Sesampainya di bis kamipun memilih bangku kosong untuk kita duduki.Sebelum bis berangkat munculah seseorang laki-laki cukup umur,ternyata dia adalah tourgade yang disediakan oleh Aji tour. Aji Toure adalah biro perjalanan yang universitas kami sediakan untuk melayani kami selama di pulau Bali.Laki-laki itu memperkenalkan diri dan menjelaskan sedikit tentang perjalanan di bali, laki-laki tersebut bernama Subagio.
Bis mulailah bergerak maju mengikuti aspal sepanjang jalan, dan sesegera mungkin Subagio menawarkan kami untuk Karoke, bis mulai meninggalkan kota Semarang  dan sepanjang jalan kami menyanyi bergantian.Kami juga ditemani oleh dosen sebagai pembimbing Kuliah Kerja Lapangan yaitu Ibu pipit.Bis berjalan menuruti aspal dan seolah-olah ingin mengejar matahari yang mulai meninggi, sampai pada akhirnya kami berhenti di Kota Tuban untuk mengencangkan ikat pinggang atau sering kita sebut makan.Mulailah bis rombongan kami yaitu ada 7 di parkirkan tertata rapi. Selepas bis berhenti saya bergegas turun dan menyedot sebatang rokok dan melanjutkan makan.Setelah selesai melahap hidangan sederhana,kini kurasa ikat pinggangku mengencang dengan sendirinya,dan otto persegi panjang yang besar itu siap untuk melaju kembali dengan nuansa hamparan pantai utara Jawa Timur. Sampai akhirnya suasana ramai gumbita mulai menenang dengan adanya kurangnya aktifitas manusia.
Pukul 14.40 kini ada dalam jarum jam tanganku, Kota Surabaya sudah menyambut kedatangan rombongan kami, sampai nakhirnya kami luangkan waktu untuk memohon keselamatan lewat salat.Bus pun kembali meluncur sesudah kami salat, sampai akhirnya hawa dingin serta gelapnya dunia mulai tiba,kami telah sampai ke Kota Probolinggo, kami menyempatkan untuk salat dan makan kembali. Probolinggopun mulai hilang dan manusia dalam bispun mulai istirahat,sampai akhirnya kami terbangun karena kami sudah memasuki pelabuhan Ketapang dimana pelabuhan ini daerah Kota Banyuwangi.
Malam mulai larut, waktu menunjukan pukul 23.30 dan kami pun bergegas masuk ke kapal, dimana kapal adalah pijakan kami untuk menyebrang ke Dunia surga yaitu Pulau Bali. Selama dua jam kami berada di atas laut, selama itu pula kami menggantungkan keselamatan nyawa pada benda apung itu. Saatnya kami tiba di pelabuhan Gilimanuk, daerah Bali pertama yang menyambut rombongan kami. Masih terbayang perjalanan kami yang panjang, ketika kami masih melanjutkan perjlanan dan kami berhenti untuk makan kembali di rumah makan Sooka Indah, Tabanan. Kami tak lupa mandi dan menikmati sejuknya pagi Pulau bali,sampai akhirnya kamipun melanjutkan perjalanan ke objek wisata Pura Luhur Tanah Loot. Sebelum kita sampai ketanah Loot kami ditemani oleh dataran terasering persawahan, tak lama ada seseorang laki-laki yang bernama Bly Nyoman, ia adalah orang yang ditugaskan sebagai tour Gade kami selama di Pulau Bali. Tidak lama kira-kira 30 menit bis berjalan kami pun tiba di Tanah Loot. Sesampainya disana kami mencoba menikmati keindahan Pura yang berada di tengah laut, alangkah beruntungnya ketika kami berkunjung di Tanah lot karena secara tidak sengaja disana sedang diadakan ritual pembersihan, dan kami berkesempatan melihat panorama keindahan tradisi kebudayaan masyarakat Bali yang turun menurun. 1 jam kami di wisata tanah lot dan kami bergegas untuk melanjutkan perjlalanan ke wisata lainya.
Perjalanan masih berlangsung, rasa kelelahan masih mendarah daging, keinginan mematikan organ tubuh sesaatpun ingin dilakukan, namun tak sanggup karena sepanjang jalan kami menikmati keindahan pulau bali meski hanya dari dalam otto persegi panjang. Setelah kami bercakap-cakap dan mulai akrap dengan Bly nyoman, kamipun mulai menanyakan banyak hal tentang Bali, entah kebudayaan,perekonomian ataupun kehidupan beragama masyarakat Bali. Tak terasa kamipun sudah sampai di objek wisata Luwus Joger. Kami sempatkan untuk berbelanja T-Shert di Joger, dan sayangnya saya tidak bisa lama untuk memilah barang yang akan dibeli karena waktu sudah menunjukan pukul 11.30 Wita yang dimaksudkan khusus Mahasiswa laki-laki di anjurkan menjalankan salat Jumat. Untuk melaksanakan salat Jumat kamipun harus naik bis untuk mencari Masjid, sampai akhirnya kami melaksanakan salat di masjid Al-Hikmah di dekat danau. Sehabisnya salat jumat kamipun melanjutkan perjalanan ke Rumah makan Cah Ayu untuk makan dan selesainya makan kami melanjutkan perjalanan ke  wisata Pusat Rakyat Bali (Museum Braja Sandi). Dalam kawasan museum tersebut saya dapat melihat bangunan yang sangat megah, dan didalamnya kami mendapati sebuah miniatur yang menggmbarkan perlawanan masayarakat Bali terhadap penjajah. Untuk mencapai puncak museum kamipun dihruskan naik tangga yang berbentuk melingkar seperti tangga, selain itu dari puncak museum kami dapat menikmati tiupan angin semilir serambi menikmai pemandangan kota Gianyar, Bali. Setelah puas kami menikmati pemandangan kota Gyanyar dari atas Museum, kami melanjutkan perjalanan ke Pasar Seni Sukawati Guwang. Kami dapat melihat Cindramata khas Bali yang harganya Murah meriah.setelah kami puas berbelanja,kamipun bergegas untuk Cek in di Hotel Made Bali, Jalan Sempidi Raya, Badung Bali di hari itu. Kami pun mulai bergegas untuk mandi dan beristirahat.
Pagi Bali pun menyambut saat itu, kegiatan hari ke dua di Bali dimulai dengan makan di hotel dan melanjutkan perjalanan ke Objek Study Bali TV. Kesan pertama masuk area Bali TV adalah pemandangan gedung dan kami disambut dan diberi penjelasan di depan lapangan gedung Bali TV. Kami sempat mengintip sebentar tentang suasana dan latar Tv Bali, dimana ada percetakn koran.
Matahari mulai meninggi, kepala mulai meneteskan keringat, dan kamipun melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan cendramata Dewata. Kami disana disambut dengan pabrik pembuatan asli Dewata dan kami pun mendapatkan informasi tentang bisnis lewat kuliah umum kewirausahaan yang bertemakan Cinta membawa berkah Dewata interpleneur. Setelah kami melakukan kuliah umum kami langsung makan siang, dan dilanjutkan menuju Objek Wisata Pantai Pandawa. Perjalanan kami saat itu terasa sangat special, karena kita melewati tol atas laut pertama di Indonesia, pada akhirnya kita sampai di objek wisata Pantai Pandawa. Nyoman memaparkan,masyarakat daerah pantai pandawa adalah masyarakat yang kurang diperhatikan pemerintah,karena keberadaan mereka di tutupi oleh tebing-tebing, sampai akhirnya pemerintah membuat akses jalan kurang lebih sepanjang 1,5 km untuk sampai ke pantai Pandawa.Ketika kita sampai di pantai pandawa, kita akan disambut jalan yang indah karena kita akan melewati tebing-tebing dan tebing tersebut ada patung ke lima Pandawa pewayangan, yaitu: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.Kelebihan pantai Pandawa juga terlihat dari hamparan pasir berwarna putih
Pada sore itu sekitar pukul 16.00 kami melanjutkan ke Pantai Kuta, untuk menikmati tebenamnya matahari, pantai kuta memang sangat indah, angin yang berhembus mengakibatkan hilangnya kepenatan dan kelelahan. Pada saat itu saya berkesempatan untuk berbincang dan foto-foto dengan wisatawan Mancanegara. Objek wisata terakhir sore itu diakhiri di pantai Jimbaran, kami serombongan KKL menikmati makan malam serambi melaksanakan malam keakraban.Setelah acara makrab selesai kurang lebih pukul 22.Wita kami bergegas kembali ke hotel untuk ber istirahat.
Pagi kembali menyambut, perasaan sedih bercampur dengan senag. Perasaan senang karena kami akan bergegas kembali ke Kampus untuk bertemu rekan-rekan dan sanak keluarga, disisi lain kami merasa sedih karena kami akan menutup keindahan Bali. Pukul 8.00 Wita pun tepat berada di tangan ini, dan kami siap begegas untuk perjalanan pulang ke Kota Semarang. Ditengah jalan kami berhenti di pusat perbelanjaan cindramata, dan dilanjutkan perjalanan selama 2 jam menuju pelabuhan Gilymanuk. Setelah rombongan kami tiba pelabuhan Gilymanuk waktunya kami bergegas untuk masuk ke kapal. Rombongan kami berada 2 jam di kapal dan tiba di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Kami melakukan perjalanan kurang lebih 15 jam agar sampai ke Kota Semarang, dan di jalan kami merasakan sisa-sisa kebersaman dengan teman dan Bali yang masih terbayang dalam sanubari. Pukul 4.00 Wib pun tiba, dan akhirnya kami sampai di Kampus dengan selamat.

Refleksi Magang I di SMPN 40 Semarang



 Primada Sujatmika_REFLEKSI MAGANG I DI SMPN 40 SEMARANG
Model penataan sekolah  SMPN 40 Semarang dapat dikatakan Cagar alam dan cagar budaya,dengan menggunakan ruangan bekas belanda yang dapat dikatakan penuh sejarah dan di selingi banyak di kelilingi tumbuhan hijau yang mengelilinginya.Pada lingkungan luar SMP 40 Semarang,di bagian barat atau depan sapat dikatakan cukup ramai dengan adanya arus lalu lintas yaitu Jl.Suyudono yang banyak sekali di rentepi ruko-ruko usaha, seperti mini market(indomart) dan kantor-kantor Notaris, sedangkan pada bagian belakang(timur) terdapat sungai yang berfungsi sebagai pengairan dan banyak rumah-rumah penduduk sekitar,sedangkan pada bagian samping(utara) terdapat kantor notaris, sedangkan pada bagian samping(selatan)terdapat warung-warung warga sekitar.Pada lingkungan luar smp 40 Semarang,khususnya masyarakat sekitar sekolah dapat dikatakan rakyat menengah,karena banyak sekali di sekitar sekolah banyak rumah-rumah yang dapat dikatakan cukup layak.
SMPN 40 Semarang banyak memberikan pengalaman yang banyak kepada saya, terutama kesempatan-kesempatan yang berharga seperti, interaksi secara dekat antara saya dan peserta didik, interaksi antara saya dan guru dan interaksi antara saya dan masyarakat internal mauoun eksternal SMPN 40 Semarang. Pengalaman yang nyata ketika saya ditunjuk oleh guru untuk membantu mengoreksi hasil kerja peserta didik dan saya diberikan kesempatan untuk lngsung mengajar dalam kelas. Pengalaman lainya yaitu, ketika saya ikut serta dalam kegiatan Jumat bersih, yaitu kegiatan kebersihan yang dilakukan seluruh elemen dalam sekolah untuk membersihkan lingkungan sekolah
Pengalaman yang sangat membahagiakan dimana saya merasa ikut serta dalam kegiatan keagamaan peserta didik, seperti: salat berjamaah dan melakukan kegiatan membaca surah Yasin berjamah. Dalam kesempatan lain, saya diajak untuk mengikuti kegiatan keolahragaan, seperti: senam rutin dan jalan sehat yang dilaksanakan oleh seluruh elemen SMPN 40 Semarang.
Pada kesempatan ini saya mengucapkan banyak rasa syukur kepada Tuhan atas pengalaman saya dalam kesempatan magang I di SMPN 40 Semarang. Tidak lupa saya mengucapkan banyak terimakasih kepada SMPN 40 Semarang atas pengalaman yang telah diberikan kepada saya.

Kamis, 15 Oktober 2015

Apresiasi Drama Mengancam Kenangan



Nama   :           Primada Sujatmika
Kelas   :           5G
NPM   :           13410286

MENGANCAM  KENANGAN
Sorotan lampu yang bergerak melingkri teater menyambut pembukaan teater mengancam kenangan yang di hiasi lampu yang berwarna merah, kuning, hijau yang saling berkombinasi menghiasi teater sore itu.Pementasan drama yang berjudul mengancam kenangan yang dilaksanakan di Audiotorium Universitas PGRI Semarang di Sutradarai oleh salah satu alumni mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menjadi anggota Teater Gema Universitas PGRI Semarang. Pementasan tersebut dilakonkan oleh komunitas teater drama yang beranggotakan kumpulan mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di Semarang.
Tradisi-ciptaan leluhur yang selalu memutar ingatan generasi selanjutnya. Drama tersebut mengajak kita untuk masuk dalam dunia yang telah terjadi, dan harus berusaha mendapatkan katarsis yang sangat mendalam. Sutradara disini memunculkan properti-properti yang mendukung suasana yang telah ditetapkan.Tokoh- tokoh diberi makeup sedemikian rupa agar mendukung dan reevansi terhadap tema yang diangkat oleh sutradara.Tema yang diangkat tidak hanya mengedepankan kecakapan berbahasa, namun juga menonjolkan sisi yang sulit ditemukan penonton, yaitu katarsis.
Megancam Kenangan
Pertunjukan dimulai dengan adanya aktor  utama yang menjadi sorotan utama, sedangkan tokoh yang lain mengumpul menjadi sisi pembeda, yaitu sebagai sorotan yang mendukung aktokoh utama itu sendiri. Properti-properti juga di gunakan oleh aktor, dimana ada kursi ditengah panggung dan boneka-boneka yang berbentuk manusia. Panggung di latarkan sebagai rumah yang sepi dan tidak terurus oleh yang punya, di buktikan dengan banyaknya krikil dan debu yang berserakan.Adegan pertama dimana ada seseorang yang seolah-olah mencekik tanpa ada suara, hanya ada sorot lampu yang berubah-ubah dan dentuman nada-nada yang keras, seolah-olah pada saat itu suasana cukup mencengkram. Drama tersebut diceritakan ada seseorang  wanita yang disebut “nyonya” merasakan kesedihan karna ditinggal suaminya dan nyonya tersebut hanya bisa mengenang dan sedih. Setiap pagi nyonya tersebut hanya menangis dan melihat pigura.Kenangan-kenangan tersebut diibaratkan adanya air yang berada dalam bak mandi. Kenangan-kenangan tersebut terbisik dimana diibaratkan bisikan itu disampaikan oleh debu dan kerikil.
Realitas sosial
Realitas sosial yang menjadi kajian yaitu realitas keluarga si nyonya tersebut, rumah menjadi neraka bagi si nyonya tersebut dikarenakan rumah menjadi ruang yang menjadi saksi perkumpulan-perkumpulan kenangan-kenangan dimasa lampau. Nyonya tersebut merasa tidak ingin berdamai dengan keadaan.Nyonya tersebut berusaha pasrah atas kenangan-kenangan yang terus membayangi kehidupan si nyonya tersebut.
Dan akhirnya, pertunjukan klimaks dimana ada yang menusukan pisau ke patung yang mengeluarkan air yang di ibaratkan orang keluar darah, para penonton tercengan atas kejadian tersebut, teater terasa ramai atas riuhnya tepuk tangan semua penonton. Akhirnya pertunjukan menjadi sajian yang cukup spesial, dimana penonton diajak merasan efek setelah menontoon drama tersebut
Setelah pertunjukan, disempatkan penonton diajak diskusi dengan sutradara dan para pemain drama tersebut. Ada dialog antar penonton dan pemeran sutradara.