Nama : Primada Sujatmika
Kelas : 5G
NPM : 13410286
MENGANCAM KENANGAN
Sorotan lampu yang bergerak
melingkri teater menyambut pembukaan teater mengancam kenangan yang di hiasi
lampu yang berwarna merah, kuning, hijau yang saling berkombinasi menghiasi teater
sore itu.Pementasan drama yang berjudul mengancam kenangan yang dilaksanakan di
Audiotorium Universitas PGRI Semarang di Sutradarai oleh salah satu alumni
mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menjadi anggota Teater Gema
Universitas PGRI Semarang. Pementasan tersebut dilakonkan oleh komunitas teater
drama yang beranggotakan kumpulan mahasiswa yang berasal dari berbagai
Universitas di Semarang.
Tradisi-ciptaan leluhur yang
selalu memutar ingatan generasi selanjutnya. Drama tersebut mengajak kita untuk
masuk dalam dunia yang telah terjadi, dan harus berusaha mendapatkan katarsis
yang sangat mendalam. Sutradara disini memunculkan properti-properti yang
mendukung suasana yang telah ditetapkan.Tokoh- tokoh diberi makeup sedemikian
rupa agar mendukung dan reevansi terhadap tema yang diangkat oleh
sutradara.Tema yang diangkat tidak hanya mengedepankan kecakapan berbahasa,
namun juga menonjolkan sisi yang sulit ditemukan penonton, yaitu katarsis.
Megancam Kenangan
Pertunjukan dimulai dengan
adanya aktor utama yang menjadi sorotan
utama, sedangkan tokoh yang lain mengumpul menjadi sisi pembeda, yaitu sebagai
sorotan yang mendukung aktokoh utama itu sendiri. Properti-properti juga di
gunakan oleh aktor, dimana ada kursi ditengah panggung dan boneka-boneka yang
berbentuk manusia. Panggung di latarkan sebagai rumah yang sepi dan tidak
terurus oleh yang punya, di buktikan dengan banyaknya krikil dan debu yang
berserakan.Adegan pertama dimana ada seseorang yang seolah-olah mencekik tanpa
ada suara, hanya ada sorot lampu yang berubah-ubah dan dentuman nada-nada yang
keras, seolah-olah pada saat itu suasana cukup mencengkram. Drama tersebut
diceritakan ada seseorang wanita yang
disebut “nyonya” merasakan kesedihan karna ditinggal suaminya dan nyonya
tersebut hanya bisa mengenang dan sedih. Setiap pagi nyonya tersebut hanya
menangis dan melihat pigura.Kenangan-kenangan tersebut diibaratkan adanya air
yang berada dalam bak mandi. Kenangan-kenangan tersebut terbisik dimana
diibaratkan bisikan itu disampaikan oleh debu dan kerikil.
Realitas sosial
Realitas sosial yang menjadi
kajian yaitu realitas keluarga si nyonya tersebut, rumah menjadi neraka bagi si
nyonya tersebut dikarenakan rumah menjadi ruang yang menjadi saksi
perkumpulan-perkumpulan kenangan-kenangan dimasa lampau. Nyonya tersebut merasa
tidak ingin berdamai dengan keadaan.Nyonya tersebut berusaha pasrah atas
kenangan-kenangan yang terus membayangi kehidupan si nyonya tersebut.
Dan akhirnya, pertunjukan
klimaks dimana ada yang menusukan pisau ke patung yang mengeluarkan air yang di
ibaratkan orang keluar darah, para penonton tercengan atas kejadian tersebut,
teater terasa ramai atas riuhnya tepuk tangan semua penonton. Akhirnya
pertunjukan menjadi sajian yang cukup spesial, dimana penonton diajak merasan
efek setelah menontoon drama tersebut
Setelah pertunjukan, disempatkan
penonton diajak diskusi dengan sutradara dan para pemain drama tersebut. Ada
dialog antar penonton dan pemeran sutradara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar