Kamis, 15 Oktober 2015

Apresiasi Drama Mengancam Kenangan



Nama   :           Primada Sujatmika
Kelas   :           5G
NPM   :           13410286

MENGANCAM  KENANGAN
Sorotan lampu yang bergerak melingkri teater menyambut pembukaan teater mengancam kenangan yang di hiasi lampu yang berwarna merah, kuning, hijau yang saling berkombinasi menghiasi teater sore itu.Pementasan drama yang berjudul mengancam kenangan yang dilaksanakan di Audiotorium Universitas PGRI Semarang di Sutradarai oleh salah satu alumni mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang menjadi anggota Teater Gema Universitas PGRI Semarang. Pementasan tersebut dilakonkan oleh komunitas teater drama yang beranggotakan kumpulan mahasiswa yang berasal dari berbagai Universitas di Semarang.
Tradisi-ciptaan leluhur yang selalu memutar ingatan generasi selanjutnya. Drama tersebut mengajak kita untuk masuk dalam dunia yang telah terjadi, dan harus berusaha mendapatkan katarsis yang sangat mendalam. Sutradara disini memunculkan properti-properti yang mendukung suasana yang telah ditetapkan.Tokoh- tokoh diberi makeup sedemikian rupa agar mendukung dan reevansi terhadap tema yang diangkat oleh sutradara.Tema yang diangkat tidak hanya mengedepankan kecakapan berbahasa, namun juga menonjolkan sisi yang sulit ditemukan penonton, yaitu katarsis.
Megancam Kenangan
Pertunjukan dimulai dengan adanya aktor  utama yang menjadi sorotan utama, sedangkan tokoh yang lain mengumpul menjadi sisi pembeda, yaitu sebagai sorotan yang mendukung aktokoh utama itu sendiri. Properti-properti juga di gunakan oleh aktor, dimana ada kursi ditengah panggung dan boneka-boneka yang berbentuk manusia. Panggung di latarkan sebagai rumah yang sepi dan tidak terurus oleh yang punya, di buktikan dengan banyaknya krikil dan debu yang berserakan.Adegan pertama dimana ada seseorang yang seolah-olah mencekik tanpa ada suara, hanya ada sorot lampu yang berubah-ubah dan dentuman nada-nada yang keras, seolah-olah pada saat itu suasana cukup mencengkram. Drama tersebut diceritakan ada seseorang  wanita yang disebut “nyonya” merasakan kesedihan karna ditinggal suaminya dan nyonya tersebut hanya bisa mengenang dan sedih. Setiap pagi nyonya tersebut hanya menangis dan melihat pigura.Kenangan-kenangan tersebut diibaratkan adanya air yang berada dalam bak mandi. Kenangan-kenangan tersebut terbisik dimana diibaratkan bisikan itu disampaikan oleh debu dan kerikil.
Realitas sosial
Realitas sosial yang menjadi kajian yaitu realitas keluarga si nyonya tersebut, rumah menjadi neraka bagi si nyonya tersebut dikarenakan rumah menjadi ruang yang menjadi saksi perkumpulan-perkumpulan kenangan-kenangan dimasa lampau. Nyonya tersebut merasa tidak ingin berdamai dengan keadaan.Nyonya tersebut berusaha pasrah atas kenangan-kenangan yang terus membayangi kehidupan si nyonya tersebut.
Dan akhirnya, pertunjukan klimaks dimana ada yang menusukan pisau ke patung yang mengeluarkan air yang di ibaratkan orang keluar darah, para penonton tercengan atas kejadian tersebut, teater terasa ramai atas riuhnya tepuk tangan semua penonton. Akhirnya pertunjukan menjadi sajian yang cukup spesial, dimana penonton diajak merasan efek setelah menontoon drama tersebut
Setelah pertunjukan, disempatkan penonton diajak diskusi dengan sutradara dan para pemain drama tersebut. Ada dialog antar penonton dan pemeran sutradara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar